Jumat, 17 Januari 2020

Fiksi bukan Raja tapi Merajalela


Fiksi bukan Raja tapi Merajalela
Ini era kebodohan memimpin
Dari dulu memang sudah bodoh
Namun saat ini jauh lebih bodoh
Generasi emas telah teracuni
Bukan sebuah pil ataupun minuman
Oleh sebuah fiksi
Yang tak tahu asalnya dari mana
Yang tiba-tibu muncul begitu saja
Bingung tak menentu
Salah siapa ini sebenarnya
Apakah sang pencipta yang terlalu pintar
Atau pengguna yang terlalu bodoh
Aku bukanlah siapa-siapa disini
Aku tak tahu apa-apa disini
Karena aku
Bukanlah Tuhan Yang Maha Tahu

Surabaya, 25 Maret 2019

Sang Mentari Mati


Sang Mentari Mati
Masih terbaring di tidur pulasnya
Padahal kicauan burung t’lah menyambutnya
Embun tak segan tuk menyapanya
Bintang t’lah pergi.. namun bulan berusaha membangunkannya
Hei.....
Kokokan ayam mengagetkannya
Diselingi suara padi yang ditumbuk
Ia berusaha membuka kelopak matanya
Entah mengapa rasanya lebih berat dari biasanya
Mungkin ia t’lah dipanggil oleh majikannya
Pada saat itu juga dunia menjadi hitam
Gelap gulita
Bukan karena tinta seekor gurita
Yang tadinya ramai aktivitas
Kini kian hening nan sunyi
Hanya dipenuhi kebingungan di benak
Berjuta tanda tanya dan tanda seru tergambarkan

Surabaya, 11 April 2019

Senin, 06 Januari 2020

Buku Bukan Berarti Guru

Buku Bukan Berarti Guru
Oleh Mido

Ia sering membisu kala ditanya buku
Sering tak tahu tentang informasi
Tapi bukan berarti ia dungu
Ataupun seorang arogansi
Mungkin di benaknya buku bukanlah jendela
Informasi bukanlah fondasi
Ia tak berniat untuk mencela
Yang ujungnya pasti menuju emosi
Baginya pengalaman lebih baik daripada buku
Terlihat seseorang yang sering memegang buku
Kala mengajar yaitu guru
Justru itu membuatnya makin cemburu
Langit yang tadinya membiru
Kini kian hendak memburu
Mungkin ia membuat kesalahan
Atau mungkin hanya dugaan

Surabaya, 17 Maret 2019

Untukmu

Untukmu
Oleh Mido

Kali ini aku tak akan kalah
Dengan seekor katak yang berdo’a
Hanya untuk meminta langit menangis
Sedangkan aku tanpa meminta pun kamu menangis
Sungguh kejam diri ini
Seakan tak mampu menampung dosa lagi
Ini adalah pertarunganku dengan sang katak
Logikanya aku menang sempurna
Namun apa daya sesempurna ini
Tak mau berdo’a maupun berusaha
Padahal di dalam dongeng
Seekor katak adalah pangeran
Yang itu artinya lebih sempurna
Mungkin dalam dongeng
Aku seorang prajurit biasa atau malah pesuruh
Namun itu dalam dongeng
Kenyataannya.... Aku bisa menangkap dan mengurung sang katak
Sehingga mendapat kesempatan banyak..
Berdo’a untuk menjadi pendamping hidupmu

Surabaya, 05 April 2019

Malam yang Sempat Sirna

Malam yang Sempat Sirna
Oleh Mido

Malam ini berbeda dengan malam sebelumnya
Tak ada lagi suara seruan belajar
Tak ada lagi ajakan untuk beribadah
Tak ada lagi yang mengingatkan untuk tidur
Semuanya ditelan sirna
Sunyi.. hening hanya tersisa tubuh yang penuh dosa
Ditemani secangkir kopi hitam
Perlahan kuseduh kopi itu
Berharap semuanya kembali seperti dulu kala
Langit yang gelap gulita berkata lain
Tak bisa memutar balikkan kenangan
Menjadi hidup kembali dalam kebersamaan
Suara jangkrik silih berganti suara jam dinding
Disusul oleh suara cicak
Lalu lalang sepeda motor
Membuat bintang dan bulan tersenyum
Dan berkata “sangat sibuk sekali orang-orang nokturnal ini”

Surabaya, 21 Maret 2019

Aku Benalu

Aku Benalu
Oleh Mido

Aku seorang benalu
Benalu pada orang tuaku
Diriku menjadi paku
Yang sering dipukul oleh palu
Aku sering malu pada diriku
Bukan berarti aku seorang putri malu
Malu karena keambiguan yaitu sesuatu
Bukan menjadi sesuatu yang dicari kala acara resmi seperti sepatu
Aku lahir seperti bolu
Terkenal kue yang sederhana dan enak sejak dahulu
Bukan seperti bola
Yang tempatnya di bawah dan ditendang-tendang sejak dulu
Aku tak ingin menjadi seperti seorang balu
Yang nantinya lubuk hatiku terkutuk menjadi pilu
Karena di dalam benakku
Hidupku indah sejak lalu

Surabaya, 07 April 2019

Perjaka Desa

Perjaka Desa
Oleh Mido

Compang-camping pakaiannya
Ditemani semerbak bau yang menyengat
Tumbuh dengan keadaan secukup-cukupnya
Seakan tubuh terpenuhi oleh keringat
Jabatan adalah hal paling belakang
Benaknya terpenuhi oleh bekerja
Bekerja sebagai pekerja
Bukan alasan tuk menyerah meski jatuh terlentang
Kesederhanaan sudah menjadi sandang pangan papannya
Mengutuk kehidupannya yang tangkup
Dengan keadaan yang sangat cukup 
Seakan bibir tak bisa bercakap dan mulut tak bisa mengucap

Surabaya, 18 Maret 2019